Beranda Review Pengalaman Menggunakan ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC: Apa Yang Saya Suka...

Pengalaman Menggunakan ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC: Apa Yang Saya Suka & Tidak Suka

0

Pengalaman Menggunakan ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC: Bagus Gak Sih? – Sekitar 2 minggu sudah saya coba untuk mencicipi sebuah laptop dari ASUS yaitu ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC. Dan di posting kali ini, saya ingin membagikan impresi saya mengenai laptop tersebut. Tentang apa kelebihan dan kekurangannya, serta apa yang saya suka dan tidak suka dari laptop ini.

Singkatnya sih, ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC sangat cocok untuk mendapat gelar laptop untuk konten kreator karena berbagai kelebihan yang ia punya. Namun, ia memiliki sedikit kekurangan yang rasanya kurang pas jika digunakan dalam skenario penggunaan tertentu. Apa saja itu? Oke langsung saja kita bahas review lengkap dari laptop ini!

REVIEW: Kelebihan & Kekurangan ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC

Pengalaman menggunakan ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC

Selama sekitar dua minggu pemakaian, saya merasa bahwa laptop ini punya banyak kelebihan dibandingkan dengan laptop biasa. Dalam arti, ia memiliki performa yang tak kalah ngebut dibanding laptop gaming, sekaligus tetap menawarkan kenyamanan yang mendekati laptop biasa.

Tidak senyaman ultrabook memang. Tapi lebih mirip seperti menggunakan laptop kelas mainstream dengan performa kelas laptop gaming. Plus, tentu saja dengan poin plus lain yang memudahkan dan memanjakan para konten kreator! Baiklah, mari kita mulai dari segi fisiknya terlebih dahulu.

Fisik & Desain

Dari segi fisik, ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC ini nampak seperti laptop biasa. Desain covernya sama persis dengan seri Vivobook lain yang lebih murah. Hanya saja, dimensinya sedikit lebih besar karena ia mengusung layar yang lebih lebar yaitu 15.6 inch.

Walau demikian, desainnya ini tidak bisa dikatakan jelek. Malahan saya suka. Simple, tidak terkesan premium, tapi estetiknya dapet. Apalagi kalau kita melihat bagian keyboard-nya. ASUS memberikan beberapa detail kecil khas Vivobook seri “Pro” yang membuat tampilan keyboard dari laptop ini terlihat lebih enak dipandang.

Menurut keterangan fiturnya, permukaan dari laptop ini sudah mendapatkan ASUS Antibacterial Guard untuk perlindungan dari bakteri yang sangat mungkin untuk menempel di permukaan laptop. Khususnya pada bagian keyboard dan palmrest.

Keseluruhan body-nya menggunakan bahan plastik yang membuatnya tidak terasa seperti laptop mahal. Padahal laptop ini harganya sekitar 16-17 jutaan lho. Walau demikian, saya masih bisa maklum. Karena dengan harga yang “cuma” segitu, ia membawa berbagai hardware yang biasa kita temukan pada laptop dengan harga lebih mahal. Jadinya ya mungkin kompensasinya adalah harus sedikit “mengorbankan” sisi material body.

Apalagi positioning dari produk ini memang bukan menarget untuk bersaing di pasar laptop premium. Kalau mau premium ya pindah ke Zenbook lah.

Di sisi lain, saya rasa penggunaan material body plastik ini justru memberikan dua kelebihan. Pertama, permukaan body jadi tidak terasa panas saat dipaksa kerja keras bagai kuda. Kedua, permukaan body tersebut jadi tidak rawan “nyetrum” jika dipakai sambil dicolokkan ke charger. Ini biasanya terjadi pada rumah yang kelistrikannya tidak memiliki grounding yang proper.

Untuk sebuah laptop dengan ukuran layar 15.6 inch, ketebalan dari laptop ini masih bisa diterima dan masih nyaman untuk dicengkram saat dibawa dengan tangan. Tidak bisa dibilang tipis juga, karena ketebalannya adalah 1.9cm, atau 2cm jika kaki / alas penyangga di bawahnya ikut dihitung.

Bobotnya sendiri adalah sekitar 1.8kg. Sebuah bobot yang masih terbilang wajar untuk sebuah laptop 15.6 inch. Dan jika dibandingkan dengan laptop gaming yang rata-rata punya bobot minimal di atas 2kg untuk ukuran layar yang sama, jelas laptop ini lebih ringan.

Performa

Dari tadi saya terus membandingkan ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC dengan laptop gaming kan ya? Ya karena ia punya level performa yang bisa dikatakan setara dengan laptop gaming. Atau lebih tepatnya, “sangat mendekati” performa laptop gaming.

Bagaimana tidak? ASUS menanamkan prosesor dengan seri performa tinggi, baik dari sisi CPU maupun GPU. CPU yang digunakan oleh laptop ini adalah Intel® Core™ i5-12450H. Prosesor seri H (high performance) tersebut dipadukan dengan GPU NVIDIA® GeForce® RTX™ 3050, untuk menghasilkan torsi performa yang siap untuk diajak kerja berat, sekaligus optimal dalam pengolahan grafis.

Bahkan, ia juga sudah dilengkapi dengan MUX Switch. Sederhananya, fitur ini berguna untuk mem-bypass output dari dedicated GPU agar langsung diterima oleh layar. Sedangkan jika fitur ini dimatikan atau tidak ada, maka output dari dedicated GPU tadi harus melalui iGPU (integrated GPU) terlebih dahulu, sebelum kemudian diteruskan ke layar.

Keuntungan dari MUX Switch ini sendiri adalah, performa grafis yang terasa lebih optimal. Karena output dari dedicated GPU tidak perlu lagi harus melalui iGPU yang notabene jelas lebih lambat.

Namun untuk penggunaan ringan, saya sangat menyarankan untuk mematikan fitur MUX Switch. Karena daya tahan baterainya jadi terasa lebih boros. Ya jelas saja. Lha wong dedicated GPU-nya dipakai terus. Sementara kan dedicated GPU itu butuh daya listrik lebih besar dibanding iGPU.

Oiya, btw laptop ini menggunakan NVIDIA Studio Driver. Yang kurang lebih sih artinya adalah chip grafis yang dipakainya itu lebih dioptimalkan untuk kebutuhan konten kreator.

Saya sendiri sudah menguji kemampuannya dalam menjalankan berbagai aplikasi kreatif. Termasuk diantaranya adalah Affinity Photo, hingga Davinci Resolve yang terkenal berat itu. Dan semuanya bisa berjalan tanpa kendala. Berasa enteng! Apalagi kalau sekadar pakai CapCut.

Tapi sayangnya di sini saya tidak mengujinya menggunakan aplikasi dari Adobe. Pertama, alasannya adalah saya tidak ingin menggunakan aplikasi bajakan karena berpotensi jadi tidak akurat dalam pengujian performanya. Kedua adalah karena saya malas untuk berlangganan Adobe karena rasa-rasanya terlalu mahal bagi saya. Jadi, sori yee.. Sori yee..

Lalu untuk gaming, gimana? Walau judulnya adalah dioptimalkan bagi konten kreator, nyatanya ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC masih enak kok buat main game berat AAA. Walaupun ya harus diakui kalau memang tidak seenak laptop gaming. Tapi setidaknya performanya itu sudah mendekati laptop gaming, dan jauh lebih powerful dibanding laptop standar. Kamu bisa lihat hasil pengujiannya pada video yang saya sertakan di bawah nanti.

Bagian palmrest sama sekali tidak terasa panas saat dipakai main game sekitar 2 jam lebih nonstop. Bahkan cenderung terasa adem. Ini adalah hasil perpaduan dari dua buah kipas yang membuang panasnya ke belakang dan samping kiri, serta bahan body plastik yang digunakan pada laptop ini.

Masih dari segi performa. ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC didukung dengan RAM berkapasitas besar yaitu 16GB DDR4, dan juga penyimpanan berkapasitas 512GB M.2 NVMe™ PCIe® 4.0 SSD.

Jenis penyimpanan SSD yang digunakan pada laptop ini mampu mencatatkan kecepatan baca dan tulis hingga lebih dari 3000MB per detik lho! Berikut adalah hasil pengujiannya.

Kalau dirasa terlalu kecil, penyimpanannya ini bisa diganti atau ditambah kok. Sedangkan untuk RAM, saya kurang tau ya.

Jenis penyimpanannya yang ngebut ini jelas bikin loading jadi sat-set. Apalagi dipadukan dengan prosesor bertorsi besar plus RAM besar. Tapi untuk menyalakan dari kondisi mati, laptop ini tidak segesit ultrabook.

Apa laptop yang pakai CPU H series emang begitu semua ya? Soalnya dari semua laptop gaming yang pernah saya coba, rata-rata ya begitu semua.

Bukan sebuah masalah besar sih. Toh dia masih bisa menyala dalam hitungan detik. Tapi buat saya yang mood nya gampang hilang, menunggu beberapa detik begini bisa bikin semangat jadi agak kendor.

Apalagi kan laptop ini diposisikan sebagai “laptop untuk berkarya”, bukan “laptop untuk bermain”. Jadi untuk urusan ini, rasanya bakal lebih mantap sih kalau bisa gesit seperti ultrabook.

Layar

Bagian layar adalah alasan kuat kedua kenapa ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC sangat cocok untuk para konten kreator. Layar 15.6 inch di laptop ini menggunakan panel OLED dengan resolusi 2880 x 1620 pixel (2.8K), dengan refresh rate hingga 120Hz, serta response time 0.2ms. Ini serius terlihat tajam dan bening banget.

Jelas saja, karena layarnya tersebut mampu menampilkan reproduksi warna hingga 100% DCI-P3 color gamut. Sehingga sudah pasti mampu menampilkan warna yang sangat kaya.

Review ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC Indonesia

Tapi ini yang penting! Layarnya ini bukan sekadar kaya warna, tapi tampilan warnanya juga dipastikan akurat! Karena ia sudah mendapatkan sertifikasi PANTONE Validated. Jadi ini layar OLED bukan sembarang OLED. Belum lagi soal berbagai sertifikasi lain yang dikantonginya. Mulai dari TÜV Rheinland untuk kategori low blue light, VESA Certified Display HDR True Black 600, dan lain sebagainya.

Jadi untuk urusan visual, ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC ini layak mendapat skor 10/10 untuk laptop dengan harga yang sama. Enak dipandang, warna kaya + akurat, nggak bikin sakit mata. Idaman para konten kreator sedunia sih.

Mobilitas & Konektivitas I/O, Dll

Beralih ke segi mobilitas. Bagi yang terbiasa bawa ultrabook, jelas ia tidak akan terasa lebih baik. Tapi bagi yang terbiasa bawa laptop standar dengan layar 15.6 inch, rasanya ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC tidak jauh beda.

Malahan kalau dilihat dari sisi performanya yang mendekati laptop gaming, jelas laptop ini lebih enak dibawa jika dibandingkan dengan laptop gaming 15.6 inch.

Bicara soal mobilitas, jelas, daya tahan baterai bakal jadi perhatian. Dengan level performa mendekati laptop gaming, tentu saya sudah skeptis untuk urusan ini. Dan benar saja. Untuk penggunaan ringan yaitu membuka browser untuk nulis di blog sambil sesekali buka aplikasi edit foto Affinity Photo, ia hanya bisa bertahan sekitar 3 jam saja.

Eits, tapi saya baru ingat kalau saat itu MUX Switch dalam keadaan aktif. Saya pun mencoba kembali pengujian baterai dengan skenario yang sama, tapi kali ini MUX Switch dinonaktifkan. Hasilnya?

Dengan penggunaan ringan, mode hemat baterai dinyalakan, serta layar dengan kecerahan yang kurang dari 50% (saya lupa tepatnya berapa), ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC mampu bertahan sampai 6 jam lebih sedikit.

Daya tahan baterai seperti ini rasanya tergolong nanggung. Tapi patut diapresiasi untuk sebuah laptop dengan performa tinggi. Walau daya tahan baterainya ini kurang cocok dalam skenario penggunaan bekerja mobile seharian, setidaknya, kita tau bahwa ia masih sanggup untuk diajak bekerja selama beberapa jam tanpa perlu membawa chargernya yang ukurannya cukup besar itu. Yah, setara charger laptop gaming lah.

Bicara soal kemudahan, laptop ini punya poin plus dari sisi port konektivitas. Lagi-lagi, setara laptop gaming, lengkap banget! Mulai dari 2 buah USB Type-A 3.2, 2 buah USB Type-C, Port HDMI, Port LAN RJ45, 3.5mm Combo Audio Jack, hingga port SD card reader.

Iyap, bukan microSD, tapi SD card! Sebuah kabar baik bagi kreator foto maupun video. Karena kan rata-rata kamera DSLR atau mirrorless itu storage-nya pakai SD card, bukan microSD. Jelas, ini memudahkan banget!

Beralih ke fitur lain yang tak kalah menarik. Dari sisi audio, ia dilengkapi dengan speaker stereo harman/kardon. Untuk keluaran suaranya, saya rasa cukup oke untuk standar laptop. Volume suara bisa keras, tapi tidak cempreng. Bass tidak terlalu kuat tapi masih bisa diterima, dan clarity juga oke. Di atas rata-rata, tapi tidak bisa dikatakan bagus banget.

Dari sisi kamera webcam, ia mampu menangkap gambar FHD 1080p yang rasanya sudah sangat cukup untuk meeting online. Poin plusnya, kamera ini sudah dilengkapi dengan privacy shutter alias penutup fisik agar kita bisa memastikan bahwa kameranya tidak akan bisa diakses oleh siapapun dari luaran sana.

Kita bisa memonitor apakah kamera dan microphone sedang aktif atau tidak, dengan memperhatikan lampu oren kecil yang terdapat pada dua tombol di keyboard. Jika kedua lampu itu menyala, maka bisa dipastikan keduanya dalam keadaan nonaktif.

Lalu, ada juga fitur sensor sidik jari yang menyatu dengan tombol power di pojok kanan keyboard. Tenang saja, tombol powernya dibuat akan sedikit lebih sulit untuk ditekan kok. Jadi tak perlu khawatir akan salah pencet.

LINK PEMBELIAN : Cek di sini

Kesimpulan

Nah, itulah beberapa kelebihan dan kekurangan dari ASUS Vivobook Pro 15 OLED K6502ZC. Dengan segala apa yang dimilikinya, rasanya sangat pas sekali untuk memposisikan laptop ini sebagai laptop untuk konten kreator.

Performanya ngebut, layarnya cemerlang, plus ada port SD card pula. Sungguh kombo fitur yang memudahkan dalam proses pembuatan konten. Dimensi dan bobotnya pun masih oke jika harus dibawa untuk mobiling.

Hanya saja, mungkin akan lebih baik jika waktu booting bisa setara dengan ultabook. Soal daya tahan baterai? Rasanya sih tidak bisa protes jika melihat dari performanya. Toh rasa-rasanya juga masih cukup untuk diajak kerja beberapa jam.

Laptop ini sudah dilengkapi dengan sistem operasi Windows 11 original, serta Microsoft Office Home & Student original dan permanen. Yang bisa diaktifkan dengan melakukan login ke akun Microsoft.

Artikel sebelumnyaJaringan Indosat & Three Gangguan? Mungkin Ini Penyebabnya! (1 Januari 2024)
Artikel selanjutnyaPersiapan Menghadapi UTBK SNBT 2024: Hal-hal Yang Sebaiknya Dilakukan & Hindari
Admin Techijau.com | Kurang pandai mainan socmed, khususnya IG

BERIKAN KOMENTARMU

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini