Kelebihan Ultrabook Dibanding Notebook (Laptop) Biasa

Kelebihan Ultrabook Dibanding Notebook (Laptop) Biasa – Serupa tapi tak sama. Setelah sebelumnya saya membahas tentang perbedaan antara ultrabook, notebook, dan juga netbook, kali ini kita akan fokus untuk membahas soal apa itu ultrabook secara lebih spesifik. Serta apa kelebihan ultrabook dibandingkan laptop biasa. Oke, kita langsung saja yaa ..

Notebook yang selama ini kita kenal sebagai laptop, memiliki beberapa kategori yang berbeda. Diantaranya ada laptop biasa, laptop gaming, laptop convertible, hingga ultrabook. Jadi, bisa dikatakan bahwa sebenarnya ultrabook adalah laptop juga. Tapi, tidak semua laptop bisa dikategorikan sebagai ultrabook. Karena, untuk bisa dikategorikan sebagai ultrabook, sebuah laptop harus memiliki beberapa kriteria khusus.

Kriteria Sebuah Ultrabook

Hal pertama yang menjadi syarat multak bagi sebuah laptop untuk bisa disebut sebagai ultrabook adalah, ia harus menggunakan prosesor dari Intel. Karena pada dasarnya, “ultrabook” sendiri merupakan sebuah merek dagang dari Intel. Jadi, walaupun sebuah laptop sudah memiliki semua kriteria lain namun tidak menggunakan prosesor dari Intel, maka ia tidak boleh disebut sebagai “ultrabook”.

Bedanya laptop dengan ultrabook
ASUS Zenbook, sebuah produk ulrabook yang terkenal

Umumnya, sebuah ultrabook akan menggunakan prosesor Intel Core series. Yang tujuannya adalah untuk bisa memenuhi kriteria yang kedua, yaitu harus bisa langsung menyala dari mode sleep dalam waktu kurang dari 2 detik. Penggunaan prosesor Intel Core juga memungkinkan laptop untuk bekerja lebih cepat dan lebih gesit. Sehingga, pengguna tidak harus mengkhawatirkan soal performa.

Kriteria yang ketiga adalah, laptop tersebut harus memiliki ketebalan kurang dari 2cm.  Walau demikian, di tahun 2022 ini, umumnya ultrabook yang beredar di pasaran memiliki ketebalan rata-rata kurang dari 1.7cm, atau bahkan lebih tipis dari itu. Dan kriteria yang keempat adalah, laptop tersebut harus memiliki ukuran layar mulai dari 13 inci, hingga 14 inci. Sehingga, laptop yang punya layar lebih besar atau lebih kecil dari itu, tidak bisa dikategorikan sebagai ultrabook.

Kriteria yang kelima adalah, ultrabook haruslah memiliki daya tahan baterai yang awet. Dengan minimal mampu bertahan selama 6 jam, saat digunakan untuk memutar video HD. Sebenarnya, ada satu syarat lain bagi sebuah laptop agar diperbolehkan menggunakan nama “ultrabook”. Yaitu, ia harus sudah mendukung fitur layar sentuh. Namun seiring dengan berjalannya waktu, definisi ultrabook sepertinya sudah sedikit bergeser.

Fitur layar sentuh sepertinya tidak lagi menjadi syarat multak bagi sebuah laptop untuk bisa disebut sebagai ultrabook. Masyarakat pun juga tidak lagi mempedulikan apakah si laptop punya fitur layar sentuh atau tidak. Asalkan laptop sudah punya lima kriteria utama diatas, maka laptop tersebut sudah bisa dikategorikan sebagai ultrabook.

Yang terpenting adalah, laptop tersebut sudah memenuhi misi yang diambil dari “semangat” Intel, untuk memberikan laptop yang ultra portable. Dalam arti, laptop tersebut harus mudah dibawa kemana-mana, siap untuk diajak bekerja secara mobile, serta punya performa yang bisa diandalkan. “Semangat” ini jugalah yang membuat Intel menetapkan kriteria khusus yang disebutakn diatas.

Lalu, berdasarkan misi yang diemban tersebut, para pembuat laptop pun juga semakin berlomba-lomba untuk membuat laptop yang punya bobot ringan. Demi menyempurnakan misi untuk dapat membuat laptop yang mudah untuk dibawa kemana-mana. Hal ini secara perlahan mulai dipandang sebagai salah satu ciri dari sebuah ultrabook.

Kelebihan Ultrabook

Berbagai kriteria yang ditetapkan tersebut merupakan sebuah hal yang sebenarnya cukup sulit untuk dipenuhi. Maka dari itu pada awal kemunculannya, kriteria ultrabook seringkali hanya digunakan oleh laptop kelas premium yang harganya mahal.

BACA JUGA : Bedanya Laptop Murah vs Laptop Mahal

Namun seiring berjalannya waktu, para brand pembuat laptop sudah semakin sering untuk membuatkan laptop yang lebih murah di kelas mainstream, yang menggunakan kriteria ala ultrabook. Sehingga, laptop yang tipis dan ringan seakan sudah menjadi standar baru untuk laptop di kelas mainstream.

Walau begitu, nyatanya “ultrabook sejati” yang punya kesemua lima kriteria utama ultrabook, memang masih di dominasi oleh laptop kelas premium yang harganya mulai dari belasan juta, hingga puluhan juta rupiah. Karena sekali lagi, walau diluaran sana sudah banyak beredar laptop kelas mainstream yang tipis dan ringan, belum tentu mereka bisa memenuhi kriteria lain. Khususnya dalam hal performa.

Harga resmi Zenbook UX333 IndonesiaBerdasarkan fakta tersebut, bisa dikatakan bahwa ultrabook itu memiliki keunggulan yang mutlak dalam hal portabilitas. Bukan cuma bermodalkan bodi yang ringkas (kecil dan ringan), tapi kecepatan dan performanya yang kencang membuatnya semakin nyaman digunakan terutama saat harus bekerja secara mobile.

Dimana dalam skenario bekerja secara mobile, terkadang kita mesti beberapa kali membuka dan menutup laptop saat berpindah-pindah tempat. Tentu aktivitas jadi lebih cepat selesai jika kita bisa langsung bekerja, segera setelah laptop diaktifkan. Loading yang kencang tersebut juga bisa menjaga alur kerja yang cepat. Sehingga, mood dan semangat pun tidak menurun hanya karena harus menunggu waktu loading. Hasilnya, kita sebagai pengguna ultrabook jadi bisa lebih produktif. Percayalah, ini beneran ngaruh banget 🙂

Kekurangan Ultrabook

Punya banyak kelebihan bukan berarti bakal membuat ultrabook menjadi laptop yang sempurna. Dan tentu saja, ia akan punya kekurangan. Hal pertama yang menjadi kekurangan paling menyebalkan dari sebuah ultrabook adalah ketersediaan port yang terbatas.

Seperti yang kita tau, laptop biasa itu umumnya dilengkapi dengan port yang sangat lengkap. Mereka bisa punya 3 buah port USB Type-A, HDMI, 3.5mm combo audio jack, port LAN RJ45, hingga USB Type-C. Sedangkan kalau di ultrabook? Akan banyak port yang akan dibuang demi membuatnya tetap ringan dan ringkas.

Umumnya, sebuah ultrabook hanya akan punya dua buah port USB Type-C, dan hanya satu buah USB Type-A. Bahkan akan lebih parah jika ternyata ultrabook tersebut menghilangkan port charger tradisional, dan hanya mengandalkan port USB Type-C sebagai port untuk mengisi baterai.

Iya sih, hal itu bisa membuatnya lebih praktis karena jadi bisa dicharge menggunakan powerbank ataupun charger lain atau bahkan charger hape. Dan tidak harus membawa charger spesifik yang khusus hanya untuk laptop tersebut.

Tetapi, itu akan membuatnya praktis hanya menyisakan satu port USB Type-C dan USB Type-A. Yang mana dalam skenario penggunaan dengan banyak aksesoris tambahan. ultrabook tidaklah cocok karena minimnya port tersebut.

Kekurangan yang kedua adalah, ultrabook tidak akan cocok untuk dipakai buat nge-game. Kalau dipakai editing video sih masih bisa ya, bahkan sudah sangat cukup. Tapi untuk gaming, sangat tidak cocok. Bodi ultrabook yang tipis, bakal memberi efek samping berupa sirkulasi udara yang kurang efektif untuk membuang panas berlebih.

Sementara, aktivitas gaming adalah sebuah aktivitas berat bagi sebuah laptop. Yang mana hal itu bakal membuat laptop bekerja ekstra keras. Dan oleh karena sistem pembuangan panasnya tidak dirancang untuk membuang panas yang teramat sangat dari CPU yang dimiliki, maka efeknya pun bodi ultrabook akan terasa lebih cepat panas saat digunakan untuk nge-game.

Memang sih, prosesor yang dimiliki oleh ultrabook itu merupakan prosesor kelas atas. Yang tentu saja akan lebih kencang dibandingkan dengan laptop kelas mainstream ataupun kelas entry level. Tapi itu tidak serta merta membuatnya cocok untuk aktivitas gaming.

Ditambah lagi, sebenarnya hanya laptop gaming saja yang punya prosesor yang dioptimalkan untuk gaming. Karena, prosesor yang digunakan pada ultrabook dan juga laptop biasa itu sebenarnya adalah prosesor versi hemat daya. Artinya, walaupun misal sebuah ultrabook dan laptop gaming sama-sama menggunakan Intel Core i7, namun sebenarnya Intel Core i7 yang digunakan ultrabook itu adalah prosesor kencang yang juga dioptimalkan untuk hemat daya. Sedangkan Intel Core i7 yang digunakan laptop gaming itu adalah prosesor kencang tanpa tapi, yang memang murni punya performa tinggi. Seperti yang sudah pernah saya bahas dalam tulisan tentang perbedaan laptop gaming vs laptop biasa.

Kesimpulan

Segala kelebihan yang dimiliki oleh ultrabook, membuatnya sangat cocok untuk mereka yang sering harus membawa laptopnya kemana saja. Bodi yang ringkas dan juga bobotnya yang ringan, membuatnya lebih mudah dan nyaman untuk dibawa-bawa. Daya tahan baterai yang awet juga memungkinkan kita untuk tetap terus produktif walau tanpa membawa charger sekalipun. Performa yang cepat dan bisa diandalkan, juga menjadi poin penting untuk menjaga alur kerja yang cepat, demi tetap terus produktif.

Namun di sisi lain, laptop ultrabook nampaknya kurang cocok sebagai laptop rumahan. Serta kurang cocok bagi mereka yang sering bekerja dengan berbagai aksesoris tambahan seperti keyboard tambahan, headphone, dan juga mouse sekaligus. Karena jika memakai semua itu, bisa dikatakan bahwa ultrabook tidak akan punya ruang lain lagi untuk menghubungkannya dengan aksesori lain. Entah itu microphone eksternal, ataupun sekadar USB Flash Drive (Flashdisk).

Oh iya, sebenarnya ada juga laptop yang punya kriteria persis seperti ultrabook, namun menggunakan prosesor AMD. Laptop tersebut disebut sebagai “ultrathin”. Walau sudah banyak beredar di pasaran, nampaknya nama ultrathin sendiri kurang begitu akrab didengar oleh masyarakat.

Pandu Dryad
Author at techijau.com | Bukan pecandu selfie, cuma orang gaptek yang tertarik sama gadget. Disebut juga sebagai Mas Bocah | Suka post hasil kamera gadget juga di akun IG @masbocah. Follow aja, gak bayar kok :P